Pengukuran di TPA
Kegiatan
Tim peneliti emisi metana tengah mengambil sampel gas metana dari salah satu zona pembuangan sampah di TPST Bantar Gebang.
Pemilihan kuadran sampah untuk proses pengukuran karakteristik dan komposisi sampah di TPST Bantar Gebang.
Proses penentuan Ground Control Point (GCP) untuk memastikan akurasi koordinat, sehingga hasil foto udara dari drone selaras dengan kondisi sebenarnya di permukaan tanah tanpa pergeseran.
Petugas survei melakukan penentuan Ground Control Point (GCP) di area tempat pembuangan akhir (TPA) menggunakan alat GNSS.
Pengambilan sampel udara dari TPA Suwung di Bali dilakukan untuk mendeteksi kandungan metana yang dihasilkan dari proses dekomposisi sampah.
DKLH Provinsi Bali, DLHK Badung dan Denpasar turut terlibat dalam proses pemilahan sampah di TPA Suwung dalam rangka melakukan pengukuran komposisi dan karakteristik di TPA Suwung.
Seorang petugas survei melakukan pengukuran dengan alat GNSS untuk menentukan titik koordinat di TPA Suwung.
Sampel sampah diambil dan dikemas rapi untuk dikirim ke laboratorium tanah guna mengetahui kandungan karbon organik terlarut (DOC), kadar air, dan kadar abu.
Di tengah gunungan sampah, seorang petugas duduk di bawah payung, mencatat hasil pemantauan emisi metana menggunakan metode CFC (Closed Flux Chamber).
Seorang petugas memastikan perangkat Closed Flux Chamber (CFC) terpasang dengan tepat di atas tumpukan sampah.
Dikelilingi tumpukan sampah, para ibu bekerja memilah dengan teliti untuk membantu tim memisahkan sampah berdasarkan jenis-jenisnya.
Seorang petugas menyusun kuadran sampling, membagi tumpukan sampah menjadi empat bagian terukur. Setiap kuadran menjadi representasi kondisi limbah untuk memungkinkan analisis mendalam terhadap komposisi dan karakteristiknya.
Seorang petugas lapangan menunjukkan hasil pemilahan sampah organik dari rumah tangga di kawasan dampingan YPBB, Kelurahan Neglasari Kota Bandung.
seorang petugas di kawasan Kelurahan Neglasari Kota Bandung tengah melakukan proses pembuatan pelet maggot—hasil dari siklus pengolahan sampah organik yang berkelanjutan.
Seorang petugas di kawasan Neglasari Kota Bandung tengah memeriksa setiap ember yang berisi sampah organik hasil pemilahan warga, memastikan semuanya siap untuk dikelola langsung di sumber atau kawasan.
PPLH Bali bersama petugas pengelola sampah bergotong royong mengelola sampah organik dari warga menjadi kompos yang dilaksanakan di Gudang Swakelola Sampah Banjar Tegeh Sari
TPS 3R Desa Lebih didampingi PPLH Bali melakukan pengomposan menggunakan rak segitiga yang memungkinkan sampah organik untuk lebih cepat menjadi kompos karena sirkulasi udara yang baik.
Pengelolaan sampah berbasis sumber dapat dilakukan dengan rumah tangga melakukan pengomposan secara mandiri, salah satunya menggunakan bak kompos terbuka.